ANALISIS JENDER ATAS USAHA INDUSTURI SKALA KECIL

Salviana Ds, Vina and Dra, and Si, M (2000) ANALISIS JENDER ATAS USAHA INDUSTURI SKALA KECIL.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Salah satu bagian dari pekerjaan di sektor non pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja wanita adalah industri kecil. Seperti yang dikutip Susilastuti (dalam Tadjudin Noer Effendi & Weber: 1993) bahwa sekalipun tidak menyebut angka Sethuraman (1984) dan Sandel dan Weijland (1989) mengatakan bahwa industri kecil memainkan peranan sangat penting dalam menyerap tenaga kerj adi pedesaan Jawa.Industri semacam ini telah memainkan peranan krusial dalam ekonomi rumah tangga pedesaan sejak lama dengan membuka kesempatan kerja bagi wanita. Lebih lanjut Sulastuti (1993) menyatakan bahwa pertumbuhan industri kecil kerajinan berhubungan erat dengan perkembangan sektor pertanian. Apabila lapangan pekerjaan yang disediakan oleh sektor pertanian cukup memadai, industri kecil kerajinan akan tetap menjadi sumber nafkah sekunder bagi penduduk pedesaan.Perubahan yang terjadi dalam sektor industri, terutama industri kecil, membawa dampak negatif bagi pekerja laki-laki maupun perempuan. Sekalipun demikian tampaknya pekerja perempuan lebih banyak dirugikan. Dalam industri batik misalnya, perempuan semakin terdorong ke pinggiran. Pekerjaan yang melibatkan canting, yang semula dikenal sebagai pekerjaan perempuan, sebagian telah diambil alih oleh pekerja laki-laki. (Wierenga, 1985; Joseph, 1987). Ikhwal yang sama juga dapat dijumpai dalam industri gerabah di Kasongan, dimana penelitian Dunham (1982) menunjukkan bahwa pada awal kemunculannya, industri gerabah dikenal sebagai industri perempuan. Akan tetapi dengan diperkenalkannya ukir tempel yang dipandang sebagai pekerjaan yang cocok untuk laki-laki, peranan perempuan dalam industri gerabah menjadi sangat berkurang. Pekerjaan perempuan di sektor industri kecil cenderung terkonsentrasi dalam industri-industri yang sulit berkembang, sedangkan tenga kerja laki-laki mampu memasuki industri-industri yang lebih menjanjikan untuk maju. Persoalan "maskulinisasi" dan "feminisasi" tenaga kerja ini berkaitan erat dengan pilihan pekerjaan yang dimiliki oleh pekerja laki-laki dan perempuan.Pilihan pekerjaan yang tersedia bagi laki-laki tampaknya relatif lebih banyak apabila dibandingkan dengan perempuan (Papanek, 1985).

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JIPTUMM > Research Report > Sosial And Political Sciences > Sociology
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:35
Last Modified: 16 Nov 2016 07:35
URI: http://kepo.unikom.ac.id/id/eprint/872

Actions (login required)

View Item View Item