Mainan pendidikan sebagai media ekspresi kemampuan kreatif anak

Tridjata S, Caeculia (1998) Mainan pendidikan sebagai media ekspresi kemampuan kreatif anak.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Hasil suatu survei nasional pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa sistim pendidikan formal di Indonesia pada umumnya masih kurang memberi peluang bagi pengembangan kreativitas. Di sekolah yang terutama dilatih adalah ranah kognitif yang meliputi pengetahuan, ingatan dan kemampuan berpikir logis atau penalaran. Sementara perkembangan ranah afektif (sikap dan perasaan) dan ranah psikomotorik (ketrampilan) serta ranah lainnya kurang diperhatikan dan dikembangkan. Hasil suatu penelitian seorang psikolog Amerika, E.P Torrance (1974) menyimpulkan bahwa ada indikasi penurunan kemampuan berpikir kreatif pada anak usia 6 tahun, yaitu saat anak masuk kelas satu sekolah dasar. Dalam rangka mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki anak pada masa pertumbuhannya, khususnya pada masa kanak-kanak hingga usia sekolah maka perlu diperhatikan bagaimana cara anak memanfaatkan mainannya dan bagaimana mainan mempengaruhi dirinya. Hal ini dipandang relevan mengingat naluri anak dalam meningkatkan kemampuannya selalu berdasarkan unsur bermain. Di samping itu banyak studi membuktikan bahwa mainan dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan, termasuk pula didalamnya meningkatkan kemampuan kreatif anak. Melihat kenyataan tersebut, para guru sebagai tokoh yang paling berpengaruh pada anak didiknya khususnya di tingkat pendidikan dasar, hendaknya merasa lebih tertantang untuk membimbing anak didiknya mencapai kemampuan yang optimal.Pokok permasalahan penelitian ini adalah: apakah ada hubungan antara kemampuan kreatif bermain balok konstruksi dengan kemampuan berpikir kreatif pada anak usia sekolah. Maka penelitian ini mengkaji hubungan di antara beberapa variabel, yakni: kreativitas bermain balok konstruksi, kognitif (berpikir kreatif), afektif kreatif (perilaku kreatif). Penelitian ini adalah suatu penelitian kasus. Ruang lingkup penelitian hanya meliputi daerah dan subyek yang relatif sempit atau kecil jumlahnya. Subyek penelitian kasus ini sebanyak 29 orang siswa. Mereka adalah anak-anak usia sekolah yang berada pada periode operasional konkrit berusia 8 tahun hingga 10 tahun dengan taraf kecerdasan rata-rata (IQ 90-109) hingga taraf superior (IQ 120-139).Hasil penelitian ini tidak berlaku general melainkan hanya mewakili kelompok anak yang termasuk dalam periode ‘operasional konkret’, khususnya anak-anak usia 8 tahun hingga 10 tahun. Penelitian dilaksanakan di SD Tarakanita I-Jakarta Selatan. Data-data diperoleh dari dokumen, kuesioner, catatan lapangan, hasil pengamatan dan hasil tes yang dilaksanakan oleh peneliti. Instrumen penelitian berupa kuesione bobot variabel kreativitas bermain balok konstruksi, tes kreativitas yang dibuat oleh tim pakar psikologi dan rancangan tes kreativitas bermain balok konstruksi (perlakuan I dan II) yang dibuat oleh peneliti. Sebelum dipakai instrumen tersebut diuji-cobakan dahulu pada studi perlakuan pendahuluan (pra-peneliti).Hipotesis penelitian yang diajukan 3 buah. Untuk menguji hipotesis, data yang terkumpulDianalisis dengan menggunakan analisis statistik korelasi product moment (Pearson) dengan taraf signifikansi 5%.. Dengan taraf signifikansi 5% penelitian ini menyimpulkan bahwa: dari 3 buah hipotesis alternatif yang diajukan 2 hipotesis diterima, sementara 1 hipotesis ditolak. Kedua hipotesis yang diterima adalah:- Hipotesis alternatif: Pada taraf signifikasi 5%: Korelasi positif antara kemampuan kreatif bermain balok konstruksi pada anak usia sekolah diperlakuan I dan II ada hubungan/dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kreatif anak tersebut, sekalipun korelasi positif itu tarafnya cukup saja.- Hasil analisis statistik: rxy atau ro (Tabel 8.a)=0,400,r1 pada t.s. 5% = 0,367- Hipotesis alternatif III: Pada taraf signifikansi 5%: Korelasi positif antara kemampuan kreatif bermain balok konstruksi pada anak usia sekolah diperlakuan II ada hubungan/dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kreatif anak tersebut, sekalipun korelasi positif itu tarafnya cukup saja. Hasil analisis statistik: rxy atau ro (Tabel 8.a) = 0,389, r1 pada t.s. 5% = 0,367.- Dengan terbuktinya dua hipotesa alternatif yang diajukan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa: alat permainan balok konstruksi dapat disetarakan fungsinya dengan media ekspresi lainnya seperti: gambar, lukisan dan patung sebagai media ekspresi dari kemampuan kreatif anak. Disarankan perlu diupayakan suatu penelitian lanjut atau penelitian lain yang mengkaji masalah kreativitas seni baik melalui media dwi matra maupun tri matra. Hal ini dipandang sangat penting mengingat sampai saat ini belum ada alat tes kreativitas di bidang seni yang terstandar (baku) bagi anak-anak maupun orang dewasa

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JBPTITBPP > S2-Theses > Fine Arts And Design > Design > 1998
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:37
Last Modified: 16 Nov 2016 07:37
URI: http://kepo.unikom.ac.id/id/eprint/2769

Actions (login required)

View Item View Item