Kajian bentuk, struktur, fungsi dan simbol elemen estetis Kelenteng Tay Kak Sie Semarang.

Murtiyoso, Onang (1999) Kajian bentuk, struktur, fungsi dan simbol elemen estetis Kelenteng Tay Kak Sie Semarang.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Kelenteng Tay Kak Sie Semarang merupakan sebuah tempat peribadatan bagi masyarakat Cina penganut ajaran Buddha, Tao, dan Konghucu yang terintegrasi ke dalam ajaran Tri Dharma serta sebagai tempat pemujaan kepada para leluhurnya di kota Semarang. Berbicara tentang tempat peribadatan, jelas bahwa pembicaraan tersebut selalu terkait dengan persoalan keagamaan atau agama tertentu. Dalam kehidupan manusia, konsepsi aliran keagamaan sangat dominan dalam mengatur tingkah laku manusia di berbagai bidang termasuk kesenian. Agama maupun aliran keagamaan mempunyai hubungan yang erat bahkan mendasari terciptanya suatu kesenian, khususnya seni rupa.Hubungan antara agama atau aliran keagamaan dengan seni akan tercermin dan mengarah pada konteks estetika yang mengandung makna simbolis spiritual dalam karya seni, walaupun relevansi dan cara pemahamannya tidak merupakan keharusan, dalam pengertian bahwa agama atau aliran keagamaan bukan hal yang esensial bagi seni, demikian juga sebaliknya seni bukan merupakan suatu hal yang esensial bagi agama atau aliran keagamaan. Dalam hal ini hubungan antara agama atau aliran keagamaan dengan seni terwujud dalam bentuk bangunan kelenteng beserta perabotan, berbagai macam benda hias, patung sebagai media pemujaan, dan berbagai macam peralatan peribadatan yang tercakup dalam elemen estetis yang bersifat fungsional. Keberadaan elemen estetis yang berujud seni bangunan, seni patung, seni hias yang bersifat fungsional dalam hubungannya dengan pemujaan terhadap Tri Dharma dan leluhurnya tampaknya memiliki ciri-ciri atau sifat yang spesifik dan unik. Oleh karena itulah spesifikasi dan keunikan elemen-elemen estetis tersebut perlu dikaji melalui aspek bentuk, struktur, fungsinya, dan simbolnya.Mengacu pada pernyataan bahwa agama telah ikut berperan dalam menentukan corak kesenian dan sebagai pedoman bagi ketepatan dari kebudayaan yang beroperasi melalui sistem simbol pada tingkat emosional, kognitif, objektif dan individual, maka perwujudan kesenian dibuat berdasarkan ide, bentuk, dan gaya dari dasar kepercayaan atau mitologi masyarakat pendukungnya. Kelenteng Tay Kak Sie Semarang merupakan salah satu fenomena seni rupa yang lahir berdasarkan mitologi, kepercayaan atau keagamaan yang dianut oleh masyarakat Cina. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dipertanyakan: pertama, bagaimanakah bentuk, struktur, dan fungsi seni bangunan Kelenteng Tay Kak Sie Semarang beserta patung-patung, perabotan, dan benda hias yang ada di dalamnya; kedua, bagaimanakah simbolisasi aliran keagamaan yang mendasari terciptanya karya seni rupa (elemen estetis).Mengacu pada permasalahan yang muncul seperti di atas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian, yaitu: pertama, mendiskripsikan estetika elemen estetis Kelenteng Tay Kak Sie Semarang yang dikaji melalui bentuk, struktur, dan fungsinya; kedua, mendiskripsikan simbolisasi aliran keagamaan Kelenteng Tay Kak Sie Semarang. Untuk mengkaji elemen estetis yang dimaksud seperti di atas, maka digunakan dasar-dasar teori agar dalam mengkaji permasalahan dapat diperoleh kesesuaian dengan yang dicari dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut teori estetika bahwa estetika merupakan pengetahuan inderawi, dan segenap pengetahuan inderawi tersebut adalah keindahan, baik keindahan alam ataupun keindahan seni. Tetapi dalam masalah ini memandang estetika terfokus pada keindahan seni. Dalam usaha untuk memahami keindahan perlu diketahui luas lingkup keindahan yang meliputi tiga golongan, yaitu: pertama, keindahan dalam arti luas yang mencakup keindahan sebagai ide, dalam hal ini keindahan tersebut menyenangkan walaupun wujudnya mungkin tidak indah; kedua, keindahan dalam arti estetis murni; ketiga, keindahan dalam arti terbatas yang hanya meliputi benda-benda yang dicerap dengan penglihatan, yang berupa keindahan bentuk dan warna saja. Benda-benda estetis merupakan simbol sebagai tanda yang menyatakan suatu hal kepada orang-orang yang melihatnya. Oleh karena itu simbol diartikan sebagai wahana bagi konsepsi tentang objek. Dengan melalui simbol manusia dapat menangkap makna dari gejala-gejala yang muncul di balik karya seni, artinya karya seni yang di dalamnya penuh dengan nilai-nilai yang dapat ditangkap maknanya oleh manusia melalui perwujudan simbol-simbol.Adapun yang dimaksud bentuk adalah kenyataan yang tampak secara kongkrit yang dapat ditangkap dengan indera mata dan/atau indera yang lain. Dengan kata lain bentuk adalah semua kenyataan yang terwujud. Perwujudan yang tampil dan dapat dinikmati mengandung dua unsur, yaitu bentuk dan struktur. Sedangkan struktur adalah susunan berbagai unsur yang menjadikan karya seni terwujud. Semuanya terorganisasi yang artinya antara bagian-bagian saling berhubungan dalam satu kesatuan yang utuh dan bermakna. Sasaran kajian adalah estetika elemen estetis Kelenteng Tay Kak Sie Semarang, yang secara rinci sasaran ini meliputi aspek bentuk, struktur, dan fungsi bangunan kelenteng, perabotan, seni hias, dan pemaknaan simbol yang terkandung dalam elemen estetis tersebut. Pengkajian terhadap permasalahan tersebut tertuju pada penjelasan dan pemahaman tentang nilai-nilai estetik yang terkandung di dalamnya dengan menempatkannya pada Kelenteng Tay Kak Sie Semarang. Oleh karena itu jenis penelitian yang dipandang tepat dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sehingga peneliti akan memperoleh peluang untuk melakukan penjelasan dan pemahaman serta analisis secara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kelenteng Tay Kak Sie Semarang dibangun berdasarkan sistem kepercayaan Tri Dharma, yaitu Buddha, Tao, dan Kongcu masyarakat Cina di Semarang dengan mengacu pada bentuk istana kerajaan di Cina. Dilihat dari bentuk luar, seni bangunan Kelenteng Tay Kak Sie Semarang ditata secara simetris dengan pembagian ruang-ruangnya juga secara simetris, yaitu antara ruang tengah dan ruang samping kanan kiri. Penataan/struktur bangunan yang simetris dengan didukung paduan warna coklat-merah-prada kuning emas memberi kesan ketenangan, keseriusan, megah dan agung, sehingga lebih memberikan makna yang menguatkan fungsi bangunan sebagai tempat peribadatan. Pemujaan kepada Tri Dharma dan kepada para leluhurnya yang menggunakan media bentuk-bentuk patung. Patung-patung pemujaan dibuat dengan corak naturalis dan untuk menegaskannya patung-patung tersebut dicat menurut alamnya. Bentuk wajah dan postur tubuh patung-patung dibuat dan disesuaikan dengan bentuk wajah dan postur tubuh orang Cina. Unit-unit patung pemujaan yang ditempatkan pada setiap ruang atau bilik ditata secara simetris di atas sebuah altar dalam satu bentuk model rumah pemujaan yang bentuknya mirip dengan bangunan kelenteng. Di setiap unit ruang pemujaan dengan bentuk patung sebagai pusat pemujaan, dilengkapi dengan berbagai perabotan dan peralatan pemujaan yang terdiri dari meja sesaji, bokor pedupaan, dan lilin yang secara keseluruhan pada dasarnya berbentuk lingkaran, segi empat, segi banyak beraturan, dan silinder. Hal itu menunjukkan bahwa perabotan dan peralatan pemujaan dibentuk dan ditata secara simetris.Bentuk seni bangunan, patung, perabotan, dan peralatan pemujaan tidak terlepas dari unsur-unsur hiasan berdimensi tiga ataupun dua dimensi, baik hiasan aktif konstruktif seperti kerbil bentuk ikan naga maupun hiasan pasif seperti bentuk lampion yang semata-mata hanya berfungsi untuk memperindah tanpa arti simbolis maupun yang mengandung arti simbolis. Hiasan-hiasan tersebut dibentuk secara tiga dimensi maupun dua dimensi dengan motif manusia, motif binatang, motif tumbuh-tumbuhan, dan motif kosmos (alam semesta). Berbagaihiasan tersebut diwujudkan secara naturalis, dekoratif, atau abstrak. Macam-macam hiasan yang terdapat di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang yang dominan ada tiga macam, yaitu: hiasan bermotif manusia yang berbentuk relief dan lukisan cerita, hiasan bermotif binatang yang berbentuk naga dan burung hong, hiasan bermotif tumbuh-tumbuhan bambu dan bunga moi. Hiasan-hiasan yang memiliki arti simbolis tinggi adalah naga yang menyimbolkan kebesaran dan laki-laki. Sedangkan burung hong kecuali menyimbolkan kebajikan juga menyimbolkan keluwesan dan perempuan, demikian juga tumbuhan bambu menyimbolkan kelanggengan dan bunga moi menyimbolkan keindahan. Warna-warna yang mendominasi Kelenteng Tay Kak Sie Semarang adalah warna merah dan warna prada kuning emas yang menyimbolkan kegembiraan, kesenangan, kemewahan, dan keagungan. Bentuk dan struktur benda-benda seni di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang melahirkan estetika Kelenteng Tay Kak Sie Semarang. Estetika Kelenteng Tay Kak Sie Semarang adalah estetika Cina yang didasarkan pada konsep Yang-Yin, bahwa kehidupan yang abadi adalah kehidupan yang serba seimbang. Dengan kata lain konsep Yang-Yin itulah yang melahirkan bentuk dan struktur karya seni yang serba seimbang, keteraturan, dan simetris.

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JBPTITBPP > S2-Theses > Fine Arts And Design > Design > 1999
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:36
Last Modified: 16 Nov 2016 07:36
URI: http://kepo.unikom.ac.id/id/eprint/2035

Actions (login required)

View Item View Item