Kompetisi Pendapatan antara Sektor Pendapatan Usahatani dan Non Usahatani dengan Sektor Non Pertanian di Daerah Sekitar Kawasan Hutan

Harpowo, (2000) Kompetisi Pendapatan antara Sektor Pendapatan Usahatani dan Non Usahatani dengan Sektor Non Pertanian di Daerah Sekitar Kawasan Hutan.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Pendapatan keluarga petani seringkali dibedakan menurut sumbernya yaitu dari sektor pertanian dan non pertanian. Pendapatan sektor pertanian diperoleh dari usahatani (on farm) dan non usahatani (off farm), sedangkan pendapatan non pertanian didapatkan dari mengandalkan ketrampilan dan tenaga yang dimiliki petani. Adanya perbedaan nominal antara kedua sumber pendapatan ini berpengaruh pada prioritas perhatian mereka terhadap lahan yang dikelola. Lahan pertanian sekitar hutan yang dikelola petani perlu usaha konservasi yang serius dan terencana. Kelestarian hutan sebagai bagian dari ekosistem yang menunjang kehidupan harus terjaga dan terpelihara. Kerusakan hutan yang kian parah dan upaya-upaya rehabilitasinya yang tidak seimbang dengan tingkat kerusakannya menyebabkan luas areal hutan makin menyempit. Sebagai “paru-paru” bagi daerah di sekitarnya, hal tersebut tidak bisa dibiarkan saja dan harus ada upaya-upaya positif yang melibatkan semua komponen dalam masyarakat untuk ikut peduli merehabilitasi dan menjaga kelestarian hutan. Kabupaten Malang secara umum dikelompokkan menjadi dua wilayah, yaitu Malang bagian utara dan Malang bagian selatan. Daerah Malang Utara meliputi seluruh area yang air hujannya mengalir ke Sungai Brantas, sedangkan daerah Malang Selatan mengalirkan air hujannya ke sungai-sungai yang bermuara ke laut selatan. Daerah Malang Selatan memiliki banyak faktor pembatas, dibandingkan dengan Malang bagian utara, baik dari segi sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Faktor pembatas sumberdaya alam tersebut antara lain sebagian besar lahannya merupakan jenis tanah yang peka erosi, mempunyai kelerengan yang tinggi dengan solum yang dangkal dan memiliki lahan kritis mencapai 21.292 ha atau 18.02 % dari seluruh wilayah Malang Selatan. Hal tersebut diperparah dengan rendahnya curah hujan, sehingga berpengaruh terhadap produktifitas lahan usahatani dan tingkat kesejahteraan penduduknya. Sedangkan wilayah Malang Utara memiliki lahan yang subur karena merupakan tanah endapan aluvial melalui proses erupsi vulkanis selama ratusan tahun. Di Malang utara sebelah Barat yang merupakan dataran tinggi dengan kelerangan yang cukup curam masih sebagian wilayahnya masih memiliki hutan alam, maupun hutan produksi. Yang dikhawatirkan saat ini adalah perilaku masyarakat sekitar hutan yang karena desakan ekonomi mulai banyak yang merambah hutan untuk diolah menjadi lahan pertanian, sebagaimana yang sudah terjadi pada daerah Sumber Brantas.

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JIPTUMM > Research Report > Agriculture > Forestry
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:35
Last Modified: 16 Nov 2016 07:35
URI: http://kepo.unikom.ac.id/id/eprint/1129

Actions (login required)

View Item View Item